Kamis, 24 September 2009

Belut Listrik

Setiap binatang punya cara unik untuk melindungi dirinya dari musuh. Beberapa jenis bahkan memiliki senjata ampuh, baik untuk berburu maupun untuk mengalahkan musuh.

Salah satunya adalah belut listrik. Ia banyak ditemukan di daerah Amazon, Amerika Selatan. Panjangnya bisa mencapai 1-2 meter, dan beratnya mencapai 20 kg. Uniknya belut ini memiliki semacam panel-panel listrik di sepanjang tubuhnya. Jumlahnya tak kurang dari 5000 buah panel listrik. Tegangan listrik yang dihasilkannya pun bukan main-main, 500-600 volt. Sedangkan besar arusnya mencapai 2 ampere. Maka tak kurang dari 1000 watt tenaga listrik bisa dihasilkan oleh hewan mirip ular ini. Bandingkan dengan 1 buah batere yang kita pakai yang hanya bertegangan 1,5 volt.

Belut listrik menggunakan ujung ekornya sebagai kutub positif dan ujung kepalanya sebagai kutub negatif. Dia bahkan mampu mengatur panel-panel listrik pada tubuhnya untuk mendapat tegangan listrik kecil dan tegangan listrik besar sesuai kebutuhannya.

Belut listrik mampu membunuh pemangsanya dengan memberi kejutan listrik dari jarak 2 meter. Untuk itu, ia butuh energi listrik yang besar. Tapi tak butuh waktu lama untuk menghasilkan listriknya, cukup dua hingga tiga perseribu detik. Sedangkan untuk kebutuhan navigasinya, belut listrik cukup memakai energi listrik yang kecil.

Sungguh sebuah , sebuah sistim yang sangat luar biasa dari seekor belut. Ia tentu tak mengenal ilmu kelistrikan. Namun, bagaimana ia bisa mengatur besaran tegangan dan arus listrik? Bagaimana ia menyerang musuhnya, tanpa membahayakan diri dan dan ikan di dekatnya? Bahkan, bagaimana ia bisa tahu tubuhnya dapat menghasilkan listrik.

Inilah salah satu keajaiban mengagumkan tentang penciptaan si belut itu sendiri. Sistem ini sangat rumit dan tak mungkin dijelaskan melalui oerkembangan setahap demi setahap. Dengan kata lain, tak mungkin kemampuan si belut tersebut muncul dari hasil evolusi. Bukankah hanya dia yang punya sistem listrik, sementara hewan lain yang hidup satu ekosistem dengannya tak punya kemampuan ini?

Yang terjadi adalah belut telah diciptakan secara sempurna, lengkap dengan kemampuan hebatnya. Adalah Allah Sang Maha Pencipta yang telah membentuknya dengan desain dan kreativitas maha tinggi.

Rabu, 02 September 2009

Bekal Perjalanan

Jalan dakwah memang panjang. Lebih panjang dari usia kita, bahkan rentang masa sebuah generasi. Jalan ini setara dengan usia pertarungan antara al-haq dan al-bathil, sejak diturunkannya Adam dan Hawa alaihimssalam. Menempuh jalan ini tidak mudah, dan perlu bekal untuk menempuh perjalanan ini. Ada tiga bekal yang harus dipersiapkan sepanjang perjalanan yang akan dilalui.
1. Keikhlasan

Apapun amal yang kita lakukan , bila tidak karena Allah tidak akan diterima. Selain itu, amal apapun yang tidak dilandasi oleh keikhlasan takkan bertahan lama dan pasti terputus ditengah jalan. Allah SWT berfirman “Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah ditepi jurang, bila ia ditimpa kebaikan ia merasa tenang, tapi bila ditima fitnah ia berbalik. Rugilah dunia dan akhiratnya dan itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj : 11)
Melalui firman Allah tadi, kitapun dapat memahami sesungguhnya fitnah atau ujian dengan segala bentukna akan menyingkap hakikat dan menyaring kualitas para pejuang dakwah. Mereka yang ikhlas akan tersaring dari mereka yang riya’.
Maimun bin maryam pernah berkata: “ Tak seorangpun melakukan amal yang baik kecuali ia mendapatkan ganjarannya. Bila ia ikhlas, Allah berikan balasan itu di dunia dan akhirat. Dan bila ia ingkar maka ia akan mendapatkan balasan di dunia saja.”(Tafsir Qurthubi, 9/14)

2. Ilmu

Dengan ilmu, seorang bisa mengetahui dan mengantisipasi kesulitan, hingga ia tahu bagaimana melepaskan diri dari kesulitan itu, dan memahami isyarat atau rambu-rambu perjalanan yaitu ilmu yang diwariskan dari mata air petunjuk para nabi. Dengan ilmu kita bisa mejadikan hati layak dan kondusif menerima sinyal hidayah.

3. Selalu mengikatkan diri dalam jama’ah

Perintah berjama’ah sangat dekat dengan anjuran Rasulullah SAW tentang mencari pertemanan dengan orang yang shaleh. Setidaknya, menurut Rasulullah, duduk dan berdekatan dengan orang yang shaleh akan menularkan kebaikan. Seperti seorang yang berdekatan dengan penjual minyak wangi, minimal ia akan terimbas wanginya. Begitu pun sebaliknya, seorang yang berteman dengan pandai/tukang las, bisa-bisa terbakar atau terkena asapnya.seperti itu, jika berteman dengan orang yang tidak baik, maka ia akan terkena keburukannya.
Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai kalian dengan tiga hal dan memurkai kalian karena tiga hal. Allah meridhai kalian dengan tiga hal yaitu kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, ketika kalian bersatu dan berpegang teguh dengan agama Allah, dan terakhir ketika kalian saling menasihati kepada orang yang memimpin urusan kalian. Sedangkan Allah murka kepada kalian karena tiga hal, yaitu karena isu dan rumor, menyia-nyiakan harta dan terakhir banyak bertanya untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu ditanyakan.”(Hadits shahih riwayat Muslim).



Free Blog Content

A Abi Khairil

MY FACEBOOK